Jum’at, 22 April 2011
Dua hari libur kali ini begitu melelahkan tapi sangat menyenangkan bagiku dan teman-teman. Perjalanan liburan ini diawali di hari Jumat, 22 April 2011. Kami berempat (aku, mba Ria, mba Eky, dan mba Dona) diundang ke syukuran rumah putra rekan kerja kami di Balai Besar Industri Hasil Perkebunan Makassar, Bu Kalsum, ST. Berhubung kami tidak mempunyai sarana transportasi sendiri, kami berempat biasanya menggunakan pete-pete, yaitu istilah angkutan umum di Makassar. Rute pertama yang kami lalui hanya sekitar 1 km, jadi ongkos yang dikeluarkan cukup 8000 rupiah untuk 4 orang alias 2000 rupiah per orang, murah kan? J Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dari kantor Gubernur SulSel menuju perumahan Antang, lokasi syukuran yang kami tuju. Rute kedua ini rupanya cukup jauh sehingga memakan waktu hampir 45 menit. Memang tua di jalan,hehehe. Tarif pete-pete kali ini 3000 rupiah per orang. Kupikir perumahan Antang seperti perumahan Mejasem, rumahku di Tegal, yang hanya 1-2 blok saja. Ternyata sangat luas saudara-saudara,ckckck. Blok yang kami tuju saja terletak di blok 6. Pyufh. Untunglah pete-pete yang kami naiki paham akan kemauan kami. Supir pete-pete mengantarkan kami hingga ke blok 6. Sesampainya di blok 6, kebingungan kami tak berhenti hanya di situ saja. Gang mana yang harus kami lewati? Oh no! Banyak sekali gangnya. Kami diberitahu teman kalau ada salon Anis. Salonnya saja tidak kami temukan. Jadilah kami nyasar disini,hahaha. Bolak-balik mencari alamat. Untunglah ada seorang ibu warga Antang yang rupanya melihat gerak-gerik kami yang kayak orang nyasar. Dia menanyakan alamat yang kami tuju. Alhamdulillah dia tahu! “Oh yang baru saja pindah rumah itu ya? Lurus aja terus nanti ketemu rumahnya.” Thanks God. J Akhirnya kami menemui rumah itu!
Di depan rumah putra Bu Kalsum banyak sekali orang. Berarti benar ini rumahnya,hehehe. Di depan rumah Bu Kalsum menyambut kami dan mempersilakan kami makan. Wow, rejeki memang ga akan kemana,hehe. Di Makassar ini hampir semua perayaan ada makan-makannya. Dan yang sangat aku suka adalah lengkap sekali menu disini. Ikan ada, daging banyak, ayam melimpah. J Masakan ikan disini sangat beragam, kadang dibakar, digulai asam (namanya Pallu Mara), atau di sop. Selesai makan besar, kami minum es buah. Perjalanan 1 jam itu dipuaskan dengan makanan yang enak sekali. Terimakasih Bu Kalsum sudah mengundang kami anak perantauan ini,hihihi.
Perjalanan dilanjut dengan pete-pete lagi. Tujuan kali ini adalah Karebossi. Bukan untuk olahraga disana tapi hanya numpang sholat dhuhur,hehehe. Seusai sholat dhuhur, kami berkeliling di Karebossi link, salah satu area perbelanjaan terkenal di Makassar. Mba Ria ingin membeli kerudung dan aku ingin mencari baju kaos untuk acara esok hari di pantai,hehehe. Niat banget ikut, pake acara beli baju segala. Tapi sayang aku tak menemukan baju yang cocok. Sebenarnya aku sudah menemukan satu baju yang aku suka, tapi sudah keduluan seorang ibu yang mengambil itu baju,hiks. Kok bajunya selera ibu-ibu yah? Eits, jangan salah. Itu bukan baju mak-mak lho. Baju yang aku taksir itu adalah baju tanpa lengan, mempunyai kerah leher serta berwarna merah. Kalau mba-mba kos bilang, itu Desy banget lah,hehehe. Karena belum berjodoh dengan baju di Karebossi link, aku yakin aku pasti akan menemukan baju yang cocok dengan seleraku dan pasti harus cocok dengan kantongku. Untungnya Matahari akan kami singgahi juga,horeeeee!!! ^o^
Seusai berjalan-jalan di Karebossi link, kami melanjutkan perjalanan menuju benteng Rotterdam. Sudah lama kami ingin ke sana tapi belum sempat-sempat. Akhirnya saat-saat yang ditunggu datang juga. Kami ke sana menggunakan pete-pete (lagi),hahahaha. Dari pojok barat Makassar ke pojok timur Makassar selalu ber-pete-pete ria. J Pete-pete yang kami tumpangi dikendarai oleh seorang anak kecil! Oh My God..... Di dalam benakku, anak ini sudah akil baligh belum ya? Sudah punya SIM belum ya? Kok bisa masih kecil, sudah boleh menyetir mobil?ckckck. Mungkin keadaanlah yang membuat dia harus berjuang demi hidupnya, lagipula ini hari libur siapa tahu dia mencari uang di saat libur. Tetap positive thinking saat mengamati orang. Setelah berputar-putar sekitar 15 menit, sampailah kami di depan benteng Rotterdam. Tunggu dulu! Lho kok rame banget ya? Kami tetap saja ber-positive thinking, mungkin saja karena hari libur nasional orang-orang liburan semua ke Benteng Roterdam (gak mungkin banget ya). Dengan penuh percaya diri kami menuju pintu masuk beteng tanpa melihat ada spanduk besar di sana. Otomatis kami langsung disambut oleh seorang penjaga pintu. Bapak tersebut bertanya kami mau ke mana dan lagi-lagi dengan PD dan polos aku menjawab mau masuk beteng. Tentu saja pak satpam tak memperbolehkan kami masuk karena betteng disterilkan selama 2 hari (23-24 April 2011) untuk acara pertunjukan I La Galigo.
Menurut, sumber yang aku baca, I La Galigo adalah sejenis epos yang berasal dari Sulawesi Selatan. I La Galigo atau Sureq Galigo berisi hikayat lahirnya peradaban Bugis dan menceritakan pengembaraan tokoh dalam epik La Galigo, Sawerigading. Naskah asli Sureq Galigo setebal 6.000 halaman yang ditulis dalam aksara lontarak bugis kini disimpan di museum Universitas Leiden, Belanda (ya ampun, ini sejarahnya siapa, lha kok malah disimpan di negara orang,ckckck). Lakon yang mengambil dari manuskrip sastra terpanjang di dunia versi UNESCO, Sureq Galigo ini disutradarai oleh sutradara visual art kelas dunia asal Amerika Serikat, Robert Wilson. Di pertunjukan kali ini, Robert Wilson berkolaborasi dengan seniman tanah air, seperti pengarah artistik Restu I Kusumaningsih dan pengarah musik Rahayu Supanggah. Teater ini akan dipentaskan di pelataran beteng Rotterdam selama 2,5 jam. Ternyata, untuk pertama kalinya teater yang dipadu dengan seni musik dan tari ini akan dipentaskan outdoor yaitu di pelataran benteng Rotterdam. Sepanjang tahun 2003 hingga tahun 2008 “I La Galigo” telah dipentaskan di beberapa kota besar dunia seperti Amsterdam, Madrid, Barcellona, New York, Lyon, Ravena, Milan, Melbourne, dan Taipei. Ya ampuuuuuun,ternyata eh ternyata ini baru pertama kalinya tampil di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan. Cuma dua hari lagi,hiks. :(
Kembali ke pak satpam tadi. Dia kembali tanya, kami dari mana. Dengan sedikit gondok (karena ga diperbolehkan masuk), aku menjawab sekenanya, dari mana-mana pak,hehe. Lha iyo emang bener kan,kami kan sudah keliling Makassar sedari pagi. Karena penasaran apa itu I La Galigo, kami “baru” membaca spanduk besar itu, hadedeeeeeh. Ingin tahu berapa harga tiketnya, kami bertanya ke bagian ticketting. Kali ini mba Ria yang bertanya. Panitia berkata kalau tiket yang tersisa hanya kelas platinum, yaitu 200 ribu rupiah. Eng ing eeeeng. Jegleg! Ini sudah tanggal 22, berarti bagi kami yang hanya seorang PNS adalah tanggalnya dah kakek-kakek alias tanggal tua. Selain itu karena kami ga punya jiwa seni tinggi,hahahaha. Alhasil, kami pulang dengan tangan hampa dan hati nelangsa. Gagal berfoto-foto di benteng Rotterdam. Lain kali kami pasti bisa! J
Kami kembali melanjutkan perjalanan ke Mall Panakukkang, mall terbesar di Makassar. Lagi-lagi dengan pete-pete. Kali ini untuk sampai kesana, kami harus menaiki dua kali pete-pete. Rute pertama dari benteng menuju pasar sentral, ditempuh sekitar 10 menit. Sampai di pasar sentral, kami melanjutkan perjalanan dengan naik pete-pete tujuan Mall Panakukkang. Perjalanan menuju mall ditempuh waktu lumayan lama, sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan kami dihibur musik-musik yang melenakan telinga kami sehingga kami jadi terpancing ikut berdendang. Jadilah karaoke gratisan sepanjang jalan di pete-pete. Kebetulan suasana pete-pete lumayan sepi saat itu.
Tujuan kami ke mall pada awalnya adalah untuk membeli beras yang kebetulan persediaan beras kala itu sudah habis. Tapi namanya perempuan, kalau yang dituju 1 pasti yang didapat 10,hahaha. Sebelum ke hypermart membeli beras, kami singgah dulu di Matahari. Jadilah kami berempat berpencar mencari kebutuhan kami masing-masing. Aku masih bersikukuh mencari baju/kaos untuk ke pantai besok. Setelah berputar-mutar selama 30 menit, akhirnya mataku terpaku pada 1 kaos merek tertentu dan diskon! Wow! Setelah fitting, aku memutuskan untuk memilih kaos berwarna hijau dan berikat pinggang ini. Baru aku sadar kalau aku sudah tak menemukan sosok mba Ria, mba Dona dan mba Eky. Ku sms mba Ria, ternyata dia ada di bagian sepatu. Mba Dona dan mba Ria berhasil menemukan sepatu sandal dengan harga terjangkau. Tapi aku tak menemukan sosok mba Eky, kata mba Ria mba Eky sedang sholat. Baru sadar kalau sudah jam setengah lima. Segera kami membayar di kasir, kami bergegas menuju mushola mall. Satu yang aku sayangkan, mall terbesar tapi mushollanya hanya ukuran kecil. Jika aku bandingkan dengan mall terbesar di Yogya sungguh jauh dari kata nyaman. Di mall Ambarukmo Plaza, musholla terletak di bagian atas sehingga ventilasinya sangat bagus. Sedangkan di mall Panakukkang ini, musholla terletak di lantai dua di bagian sudut. Ventilasinya sangat amat jelek sekali. Untuk bernapas di ruangan sesempit ini sangat susah. Aku berharap manajemen mall mau memperbaiki fasilitas penting untuk kaum muslim ini.
Seusai sholat ashar, kami masih belum bertemu mba Eky. Sms dikirim tapi masih pending. Akhirnya kami memutuskan menuju Hypermart untuk membeli beras. Beberapa kebutuhanku seperti mie dan roti pun aku beli, tak lupa minumannya. Lama sms tak dibalas, akhirnya mba Ria menelpon mba Eky. Mba Eky ternyata masih di Matahari,hahaha. Tak lama kemudian kami berkumpul, membayar belanjaan dan pulang. Kali ini kami pulang dengan taksi karena tak ada pete-pete jalur mall-kost. Kalau boleh dibilang, ongkos taksi di sini lumayan murah. Dulu sewaktu menginjakkan kaki di Makassar, kupikir harga taksi di Makassar sama mahalnya dengan di Yogya. Makanya aku sempat heran dengan mba-mba kos yang lebih suka naik taksi ini. Di Yogya aku jarang sekali atau dikatakan hampir tak pernah naik taksi karena mahal. Akhirnya petualangan kami hari ini berakhir tepat adzan maghrib berkumandang. Aku tak sabar menanti petualangan esok hari. J
Sabtu, 23 April 2011
Akhirnya hari ini tiba juga. Aku merasa hari ini puncak dari liburan,hohoho. Kami akan berwisata ke pantai Tanjung Bayang. Kali ini kami tidak hanya berjalan berempat saja, tapi sekantor. Horeeeee!!!!! J Karena tujuan wisata adalah pantai, tentu saja aku mempersiapkan baju ganti, aku tak mau melewatkan kesempatan emas ini. Sebelum berangkat, kami sarapan terlebih dahulu. Selang beberapa menit, tiba-tiba ada tamu datang. Ternyata yang datang adalah kak Yeyen dan raihan, anaknya yang berumur 5 tahun. Rupanya mereka baru datang dari kantor, tapi belum ada orang. Padahal waktu dah menunjukkan 9 pagi. Emang dasar jam karet Indonesia,hohoho.
Sekitar pukul 9.15 kami berangkat ke kantor, tentunya dengan berjalan kaki. Jarak antara kontrakanku dengan kantor gak jauh kok, hanya ditempuh 5 menit dengan berjalan kaki. Sesampainya di kantor, suasana sepi melengang. Hanya ada mba Melia, suami, dan Restu, anaknya. Selang beberapa saat, munculah cowok-cowok dari dalam kantor. Ada mas Mukhlis, Daniel, mas Yudi dan mas Dion. Mereka ngomel-ngomel karena aku memberitahu mereka untuk kumpul jam 8 pagi,hahahaha. Emang enak aku kerjain. Aku lakukan itu soalnya budaya jam karet Indonesia. Padahal jam kumpul sebenarnya adalah jam 10! Hahahaha,mereka benar-benar dongkol maaku rupanya. Maaf deh. J Sayangnya salah satu teman angkatanku tak kelihatan batang hidungnya yaitu Anto. Aku dah menduga dari awal kalau pasti dia malas ikut karena dia bukanlah tipikal orang yang senang dengan wisata rame-rame. Agak sebal juga sih tapi apa boleh buat. Waktu kutanyakan Daniel, katanya dia habis bergadang sampai jam 7 pagi dengan Andi, salah satu satpam balai. Ngapain aja itu anak yah,hmmmm. Waktu kutelpon, nomornya tak aktif. Ya sudahlah.
Sekitar jam 11 kami berangkat dari kantor setelah menunggu hampir 2 jam. Tuh kan ngaret bangeeet. L Awalnya kami mau naik mobil biru milik kantor. Tapi karena dipakai pak Mustari untuk mengambil makan siang dan lama sekali, akhirnya kami menumpang mobil kijang milik Pak Rahman K, atasan mba Ria di bagian keuangan. Mobil Grand Max dipakai oleh orang-orang TU, mobil kak Emma sudah penuh, jadilah kami berjubel di sini,hahaha. Ada kak Yeyen duduk di samping pak sopir, Pak Rahman K. Di bagian tengah ada Raihan (dan bebeknya), mba Ria, kak Yulis, dan mba Dona. Di belakang dihuni mas Mukhlis, mas Yudi, mba Eky dan aku. Sepanjang perjalanan, kami bersenda gurau. Ada saja hal-hal lucu yang dilontarkan oleh penghuni mobil. Misalnya, muncul pertanyaan dari kak Yulis, kenapa pantat sapi/kerbau putih? Mas mukhlis meyeletuk,ya iyalah, sapi kan ga pernah duduk makanya pantatnya putih, jangan disamakan sama manusia,hahaha. Seisi mobil ketawa ngakak. Dan masih banyak banyolan-banyolan lainnya.
Akhirnya sampai juga di pantai yang kami tuju, Pantai Tanjung Bayang. Apa sih keunikan pantai ini dibanding pantai yang lain di Makassar. Kalau di pantai Losari,kita tidak bisa bermain air karena pinggir pantai sudah dibatasi oleh pagar besi. Kalau di pantai Akkarena, tidak ada pondok-pondok yang menyediakan jasa bakar ikan seperti di pantai Tanjung Bayang. Tapi di pantai Akkarena terdapat sebuah anjungan dimana pengunjung bisa berjalan di atas anjungan hingga ke tengah laut.
Di sana kami disambut rombongan mobil Grand Max yang terlebih dulu sampai pantai. Ketika kami sampai disana, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Matahari tepat di atas kepala. Suasana sangat panas. Pingin rasanya segera ‘’nyemplung’’ tapi tanggung belum dhuhur. Sudah jam 12, tapi kok belum terdengar adzan ya. Raihan dan bebeknya jalan ke pinggir pantai, diikuti mba Ria dan Kak Ipah. Jadilah kami hanya sedikit-sedikit menyentuh air laut dengan mupeng ‘’nyemplung’’ tadi,hehehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar